Minggu, 02 Januari 2011

Asal usul tlatar boyolali

Cerita diawali dengan adanya sebuah desa yang merupakan bentangan padang ilalang, tanahnya kering kerontang, berpadas dan penuh bebatuan. Desa ini bernama Wonotoro. Pemimpin desa pada waktu itu bernama Ki Ageng Wonotoro, beliau adalah sosok figure yang sangat arif dan bijaksana penuh rasa tanggung jawab dalam memimpin desanya disamping itu beliau juga mempunyai kepandaian linuwih dalam hal kebatinan.

Ki Ageng Wonotoro merasa sangat prihatin melihat keadaan desanya yang gersang kekurangan air, untuk mendapatkan sumber / mata air Ki Ageng Wonotoro melakukan semedi mohon petunjuk kepada Tuhan Yang maha Kuasa agar diberi sumber air. Didalam semedinya Ki Ageng Wonotoro mendapat petunjuk ( ilham ) yang isinya “ Untuk mendapatkan sumber air supaya pergi ke Pantaran menemui ki Ageng Pantaran. Singkat cerita Ki Ageng Wonotoro memerintahkan seorang cantriknya untuk menemui Ki ageng Pantaran untuk meminta sumber air. Setelah cantrik utusan Ki ageng wonotoro sampai dipantaran dan menyampaikan permohonan pimpinanannya kepada Ki Ageng Pantaran maka diberikan kepada cantrik tersebut sebuah kendi berisi air dan di kawal oleh 4 jin yang masing-masing bernama : Pule, Randu alas, Jangkang dan Asem Gede dengan disertai pesan bahwa selama perjalanan pulang ke Wonotoro jangan sekali-kali menoleh ke belakang. Akan tetapi dalam perjalanannya sesampai di desa Tlatar terjadi angin ribut, mendung tebal, dan halilintar yang menyambar-nyambar, suasana jadi seram dan menakutkan , sehingga dengan tidak disadari cantrik tersebut menoleh kebelakang karena ketakutan. Kendi yang dibawanya jatuh, bersamaan dengan jatuhnya kendi suara gemuruh tersebut hilang. Cantrik sadar akan tugasnya sehingga diambil kendi tersebut untuk dibawa ke desa Wonotoro meskipun airnya tinggal sedikit, saat kendi tersebut diambil suara gemuruh dan hujan lebat datang lagi, cantrik semakin ketakutan, wonotorol membawa kendi yang isinya tinggal sedikit itu cantrik lari sehingga air yang ada dalam kendi tersebut tercicir dijalan. Dan sesampainya di perbatasan desa Wonotoro airnya habis. Ditempat kendi jatuh ternyata keluar air yang meluap-luap ( umbul ) sedang air yang tercicir di jalan-jalan keluar umbul kecil. Sesampai di Desa Wonotoro cantrik langsung menghadap Ki Ageng Wonotoro dengan penuh rasa takut dan menceriterakan semua kejadian yang dialami.

Mendengar cerita cantrik tersebut Ki Ageng Wonotoro dengan penuh kesabaran menerima semuanya, Ki Ageng Menyimpulkan bahwa permohonan untuk mendapatkan sumber air belum terkabul. Dengan kejadian tersebut Ki Ageng Wonotoro menyuruh cantrik untuk kembali ketempat dimana kendi tersebut jatuh, dengan maksud agar cantrik tersebut menjaga sumber air ( umbul ) yang muncul tersebut. Cantrik menuju ketempat kendi jatuh disitu cantrik melihat umbul yang meluap-luap, dan sekitar umbul ada 4 pohon besar yaitu pohon randu alas, pule, asem gede dan jangkang yang merupakan jilmaan dari 4 jim yang mengawal.

Melihat air yang meluap-luap, cantrik berusaha menyumbat sedikit agar air dapat dimanfaatkan untuk masyarakat sekitarnya, kemudian cantrik mengambil batu di desa Mudal, tetapi karena batu yang diambil terlalu besar batu itu jatuh disebelah dukuh Mudal, kemudian cantrik mencari batu lagi dan akhirnya batu tersebut dapat menyumbat sebagian dari umbul, sehingga airnya dapat dimanfaatkan. Setelah itu cantrik tersebut kembali ke Wonotoro, Ki Ageng Wonotoro bertanya kenapa cantrik kembali pulang padahal cantrik tersebut disuruh untuk menjaga umbul itu. Cantrik menceriterakan kejadian di umbul, dari cerita cantrik Ki Ageng Wonotoro tetap menyuruh cantrik agar tetap menjaga umbul tersebut dan dari kejadian tersebut Ki Ageng Wonotoro berpesan bahwa “ Kalau jaman sudah ramai besok “

Tempat kendi jatuh aku namakan umbul mubal, yang sekarang ini disebut umbul Tlatar karena tempatnya di dukuh Tlatar.

Tempat air tercecer dinamakan umbul Recah yang sekarang menyebut desa Rancah.

Tempat suara prahara dinamakan Udan Nuwuh

Tempat mengambil batu untuk menyumbat dinamakan pasekan yang sekarang menjadi desa Pasekan.

Batu yang jatuh disebelah timur dukuh Mudal dinamakan batu Si gajah.

Dengan membawa pesan dari Ki Ageng Wonotoro cantrik kembali ke umbul dan melakukan semedi untuk mendapatkan pendamping hidup. Dalam semedinya cantrik diganggu oleh para peri yang akhirnya salah satu peri tersebut menjadi isteri dari cantrik.

Dari perkembangan cerita perkawinan cantrik dengan peri dilaksanakan dengan perjanjian bahwa perkawinan dilaksanakan asal peri tersebut dibuatkan rumah di sebelah timur umbul yang dinamakan Sedalem dan mata airnya dinamakan Sendang Sidalem.

Pada selanjutnya, Ki Ageng wonotoro terus bermunajad kepada ALLAH, agar diberikan mata air “pengganti”. Permohoanan beliau dikabulkan oleh ALLAH sehingga diberikan sebuah mata air di pinggir sebelah timur padukuhan wonotoro. Kelak mata air ini dinamakan sendang SIRAMAN. Sampai hari ini air sendang siraman masih dipergunakan oleh penduduk di padukuhan wonotoro dan sekitar untuk keperluan sehari-hari, baik mandi, minum maupun mencuci, meskipun padukuhan wonotoro pada masa sekarang sudah dialiri oleh instalasi air PDAM yang airnya juga berasal dari Umbul Tlatar


sumber :
http://mig33salatiga.org/forum/viewtopic.php?f=78&t=10767

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar